Ini dia kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono favorit gue.
Menyentuh lubuk hati yang paling dalam deh pokoknya.. Wkwkwkwk..
AKU
INGIN
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Aku
ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada
yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada
yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu(1989)
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu(1989)
DALAM
DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
(1980)
Tiba-Tiba
Malam pun risik
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
Percakapan
Malam Hujan
Hujan,
yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang
listrik.
Katanya
kepada lampu jalan,
“Tutup
matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau
hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu
dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah,
jangan menggodaku tidur.
Aku
sahabat manusia. Ia suka terang.”
~*Sapardi
Djoko Damono*~
[Hujan
Bulan Juni, 1973]
0 komentar:
Posting Komentar